Cerita Keramahan Orang Sambas
Ketika menginjakan kaki di Pulau
Kalimantan bagian barat, hanya kata
'panas' yang terlontar
Semilir angin saja, tidak dapat
dirasakan. Hanya panas, panas, dan
panas Badan pun suhunya tidak enak,
karena memang sedang tidak enak
badan
Jantung dag-dig-dug pleng pun
masih terasa karena sempat
turbulensi ketika di dalam pesawat Menunggu di tempat travel menuju
Pontianak-Sambas buang-buang
waktu, lama
Ketika mobil mulai berjalan, rasa
kantuk akibat obat sudah tidak
dapat ditoleransi lagi
Akhirnya terlelap hingga sampai ke
tujuan
Cukup lama terlelap dalam perjalanan
Kota Singkawang pun sampai tidak
teramati Sampailah di tujuan
Sambas, kabupaten perbatasan
Indonesia-Malaysia
Pertama kali menginjakan, hanya
pening di kepala
Rasanya ingin pulang kembali ke
Jakarta Di sela pening, kaki mulai melangkah
mencari dokter
Tidak ada yang buka satu pun
Lemas sudah badan...
Mendadak seorang wanita yang
baik hati menghantarkan ke seorang
'mantri' yang terkenal di Sambas
Tidak sampai sejam, sang mantri
memberikan obat-obatan yang
lumayan banyak Hmmm...efek tidak nafsu makan
membuat badan meradang ternyata Tidak langsung di bawa ke temnpat
penginapan, melainkan dihantarkan
keliling Sambas
Walaupun hanya sekejap, tetapi
sangat berkesan
Melihat Masjid Jami Kesultanan Sambas dan Istana Kesultanan
Sambas
Bangunan kuno, tetapi rasa kagum
tidak terbendung
Terasa kental adat Melayu-nya
Ternyata ada cerita mistis yang
membuat orang-orang harus
bersikap sopan di area masjid dan
istana
Harus mengucapakan salam ketika
memasuki gerbangnya Konon di depan gerbang, terdapat
'penjaga' yang melindungi area
masjid dan istana dari gangguan-
gangguan negatif
Beginilah Indonesia, kita memang
sudah diajarkan untuk bersikap sopan santun antar yang lainnya
^_^
Azan maghrib tiba, akhirnya sang
ibu baik hati menghantarkan pulang
ke penginapan
Selama perjalanan pulang, kami
melewati Komplek Pemakaman
Kesultanan Sambas Ada rasa merinding ketika
melewatinya Selain berkeliling Sambas, sang ibu
baik hati ini bercerita tentang
makanan-makanan khas Sambas
Salahsatunya adalah Bubur Sambas
Sepintas sangat mirip dengan bubur
ayam, tetapi yang berbeda adalah sambalnya
Katanya sambalnya super duper
pedas
Sayang tidak bisa mencoba karena
sakit T_T
Sampailah di penginapan
Sang ibu baik hati segera pulang ke
rumahnya
Sungguh hari yang indah Pagi harinya, sakit di badan mulai
hilang
Hebat ternyata sang mantri ini
Bersiap-siap untuk meliput tim
peneliti pertanian
Sore hari, mobil travel datang
menjemput untuk kembali ke
Pontianak
Rasa sedih cukup menghantui diri
Terasa berat untuk meninggalkan
Sambas Masih ingin mengekploitasi
keindahan Sambas Rintik hujan mulai dirasakan ketika
meninggalkan Sambas
Selamat tinggal Sambas
Sampai jumpa lagi di kemudian hari
Terima kasih untuk semua
masyarakat di Sambas Terutama untuk sang ibu baik hati,
Ibu Yuyun.
sumber : akubanggasambas
Ketika menginjakan kaki di Pulau
Kalimantan bagian barat, hanya kata
'panas' yang terlontar
Semilir angin saja, tidak dapat
dirasakan. Hanya panas, panas, dan
panas Badan pun suhunya tidak enak,
karena memang sedang tidak enak
badan
Jantung dag-dig-dug pleng pun
masih terasa karena sempat
turbulensi ketika di dalam pesawat Menunggu di tempat travel menuju
Pontianak-Sambas buang-buang
waktu, lama
Ketika mobil mulai berjalan, rasa
kantuk akibat obat sudah tidak
dapat ditoleransi lagi
Akhirnya terlelap hingga sampai ke
tujuan
Cukup lama terlelap dalam perjalanan
Kota Singkawang pun sampai tidak
teramati Sampailah di tujuan
Sambas, kabupaten perbatasan
Indonesia-Malaysia
Pertama kali menginjakan, hanya
pening di kepala
Rasanya ingin pulang kembali ke
Jakarta Di sela pening, kaki mulai melangkah
mencari dokter
Tidak ada yang buka satu pun
Lemas sudah badan...
Mendadak seorang wanita yang
baik hati menghantarkan ke seorang
'mantri' yang terkenal di Sambas
Tidak sampai sejam, sang mantri
memberikan obat-obatan yang
lumayan banyak Hmmm...efek tidak nafsu makan
membuat badan meradang ternyata Tidak langsung di bawa ke temnpat
penginapan, melainkan dihantarkan
keliling Sambas
Walaupun hanya sekejap, tetapi
sangat berkesan
Melihat Masjid Jami Kesultanan Sambas dan Istana Kesultanan
Sambas
Bangunan kuno, tetapi rasa kagum
tidak terbendung
Terasa kental adat Melayu-nya
Ternyata ada cerita mistis yang
membuat orang-orang harus
bersikap sopan di area masjid dan
istana
Harus mengucapakan salam ketika
memasuki gerbangnya Konon di depan gerbang, terdapat
'penjaga' yang melindungi area
masjid dan istana dari gangguan-
gangguan negatif
Beginilah Indonesia, kita memang
sudah diajarkan untuk bersikap sopan santun antar yang lainnya
^_^
Azan maghrib tiba, akhirnya sang
ibu baik hati menghantarkan pulang
ke penginapan
Selama perjalanan pulang, kami
melewati Komplek Pemakaman
Kesultanan Sambas Ada rasa merinding ketika
melewatinya Selain berkeliling Sambas, sang ibu
baik hati ini bercerita tentang
makanan-makanan khas Sambas
Salahsatunya adalah Bubur Sambas
Sepintas sangat mirip dengan bubur
ayam, tetapi yang berbeda adalah sambalnya
Katanya sambalnya super duper
pedas
Sayang tidak bisa mencoba karena
sakit T_T
Sampailah di penginapan
Sang ibu baik hati segera pulang ke
rumahnya
Sungguh hari yang indah Pagi harinya, sakit di badan mulai
hilang
Hebat ternyata sang mantri ini
Bersiap-siap untuk meliput tim
peneliti pertanian
Sore hari, mobil travel datang
menjemput untuk kembali ke
Pontianak
Rasa sedih cukup menghantui diri
Terasa berat untuk meninggalkan
Sambas Masih ingin mengekploitasi
keindahan Sambas Rintik hujan mulai dirasakan ketika
meninggalkan Sambas
Selamat tinggal Sambas
Sampai jumpa lagi di kemudian hari
Terima kasih untuk semua
masyarakat di Sambas Terutama untuk sang ibu baik hati,
Ibu Yuyun.
sumber : akubanggasambas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar